Pre Wedding Photo Murah ? Jangan Asal Murah !

Pre Wedding Murah, Wedding Photo Murah, Paket Foto Murah, Paket Prewedding Murah, itulah keyword-keyword yang populer sering dimasukan pada mesin pencari seperti google untuk menampilkan fotografer-fotografer yang memberikan layanan murah. Kita akan membahas kenapa layanan fotografi relatif mahal dari sisi kami selaku pelaku bisnis fotografi.

Pada artikel ini kami tidak membahas bagi mereka yang memang hanya memiliki budget terbatas untuk biaya pernikahannya, dengan memiliki budget yang terbatas sebagai konsekuensinya maka tingkat harapan untuk memiliki foto bagus dan berkelas nyaris tidak mungkin. Ya kejam memang, tapi inilah kenyataannya. Kenapa ?  Mari kita bahas satu persatu faktornya, mudah-mudahan dengan membaca artikel ini, semuanya bisa memahami seluk beluk bisnis fotografi.

Wedding Album
Standard Wedding Album kita, magazine-style halaman kiri & kanan menyatu, cetakan Lab Resmi, laminasi anti gores, dan photo cover.

Kita bahas dari biaya produksi album, Wedding-Album yang berkelas produksinya cukup mahal apalagi yang dibuat secara handmade. Anggap saja album ukuran 8RP (20x30cm) yang berisi 20 halaman ini, bila dihitung biaya cetaknya saja sudah memakan biaya Rp. 250.000,- termasuk laminasi, dan opsi cetak artistik. Itu belum dengan albumnya yang harganya bervariasi dari mulai harga seratus ribuan. Juga belum termasuk ongkos desainer profesional dimana desainer grafis yang baik tahu benar cara menata layout foto-by-foto dikombinasikan dengan syair-syair yang menambah keindahan foto album itu sendiri. Jasa desainer grafis yang sungguhan dan sudah pengalaman biasanya mulai dari 750rb an. Cukup sampai disini ?  Ternyata belum, kita juga masih perlu proses untuk menempelkan foto ke album yang biasanya menggunakan mesin press khusus, dimana halaman kiri dan kanan akan tersambung secara sempurna.

Nah, itu dari sisi album. Jadi memang buat produksi album itu habis juga dana jutaan loh. Bagaimana cara mengakali agar album tersebut menjadi murah ?  Bagi mereka fotografer yang memang men-targetkan segment pasar low-end, biasanya memangkas ongkos produksi album. Contohnya, beberapa mencetak fotonya dengan menggunakan printer biasa yang mana hasilnya mendekati cetakan by mesin tetapi ketahanannya jauh lebih rendah. Cetakan dari printer biasanya akan pudar dalam hitungan mulai dari satu tahun pertama. Selain itu, untuk menekan ongkos produksi album bisa juga dengan cara memilih desainer yang masih belajar, karena mereka yang masih belajar biasanya harga jasanya jauh lebih murah ketimbang mereka yang sudah berpengalaman.

Kamera DLSR sudah menjadi lifestyle
Kamera DSLR sekarang sudah menjadi bagian dari lifestyle !

Selain menekan ongkos produksi album, fotografer juga bisa menekan biaya investasi peralatan fotografi untuk menekan harga jual. Fotografer Professional idealnya setidaknya menggunakan 2 body kamera kelas semi-pro yang up to date dalam menjalankan tugasnya. Bila dimana ada kejadian kamera rusak saat bertugas, dia memiliki cadangan kamera yang bisa digunakan sehingga tidak mengganggu tugasnya. Menekan biaya ini sangat mudah, banyak fotografer yang mengklaim professional tapi menggunakan kamera kelas entry-level atau kamera pro tapi yang sudah out-of-date. Apakah hal ini penting ?  Ya, kamera entry level meskipun mampu membuat gambar bagus, tapi dalam hal speed dan taktis jauh sekali ketimbang kamera kelas pro, sehingga kemungkinan hilang moment dalam mengambil gambar akan sangat besar. Investasi kamera kelas semi-pro bisa mencapai pada angka belasan juta rupiah. Sedangkan body kamera kelas entry level hanya pada kisaran angka 5jt rupiah.

Investasi Lensa sangat penting. Jangan anggap body kamera pro saja sudah cukup tanpa diimbangi investasi lensa yang bagus. Investasi lensa adalah investasi termahal dalam hobby fotografi. Kenapa ? Karena photographer tidak cukup hanya memiliki 1 atau 2 lensa saja. Penggunaan lensa yang tepat pada setiap situasi dan kondisi sangat mempengaruhi kualitas foto yang dihasilkan. Body kamera yang bagus dengan lensa standard ibarat mata manusia yang istimewa namun memakai kacamata dengan lensa yang suram. Sedikitnya 3 lensa professional grade diperlukan oleh seorang fotografer professional. Harga investasi untuk lensa professional grade ini pun bervariasi, namun rata-rata memakan biaya belasan juta rupiah per lensanya.

Accessories photography yang lain juga tak kalah pentingnya dari mulai peralatan lighting, peralatan back up data, komputer berkecepatan tinggi untuk pengolahan foto, tas kamera, tripod, dan lain-lain. jangan pikir bahwa tripod itu barang murah loh. Tripod alumunium biasa memang murah kisaran 300rban. Fotografer professional biasanya enggan dan kapok menggunakan tripod murah karena umur pemakaian secara professional maksimum adalah 3 bulan sudah pasti rusak. Tripod professional seperti merk Manfrotto harganya kisaran 3jt an lengkap dengan ballheadnya.

Peralatan Foto bawah air
Semahal apa, secanggih apa kamera, perlu diimbangi dengan SKILL dan PENGALAMAN dari sang fotografer !

Investasi primer lainnya yang diperlukan adalah SKILL dan PENGALAMAN di fotografer itu sendiri. Siapa itu fotografer ?  Tidak ada aturan khusus dimanapun didunia ini mengenai siapa yang berhak mengklaim diri sebagai fotografer professional. Semua orang dengan modal kamera bisa saja mengklaim diri fotografer professional. Yang menilai hanyalah audience yang tak lain anda anda sendiri. Fotografer professional yang baik selayaknya memiliki 3 hal yang essensial yaitu KNOWLEDGE of PHOTOGRAPHY yang bisa didapat dari belajar sendiri (otodidak) ataupun sekolah, juga memiliki SENSE OF ART dimana tanpa memmiliki hal ini maka foto yg dihasilkan memang terang dan tajam, namun tidak memiliki nilai seni yang baik. Terakhir photographer professional juga perlu EXPERIENCE yaitu pengalaman memotret dari berbagai medan yang berbeda.

Nah, bisa dibayangkan berapa investasi yang telah ditanam oleh seorang fotografer professional untuk membangun ketiga faktor tersebut ?  Apakah mungkin professional photographer yang memiliki ketiga hal tersebut menghargai jasanya secara murah ?  Tanpa knowledge of photography mustahil bisa menghasilkan foto bagus. Tanpa sense of art, seorang photographer masih bisa berkarya, terutama untuk dokumentasi karena hanya dibutuhkan teknik memotret agar didapat hasil yang terang. Tapi untuk pemotretan pre-wedding, sense of art adalah modal utama, tanpa hal itu, biasanya photographer hanya meniru dan mencontek hasil karya fotografer lainnya. Yang terakhir dan termahal adalah EXPERIENCE.

Photographer baru jadi yang belum memiliki pengalaman, biasanya tak sungkan untuk menjual harga murah bahkan gratis untuk bisa mendapatkan client. Kenapa ?  Karena dia membutuhkan portfolio atau contoh karya yang dia perlukan untuk suatu hari menjual jasanya kepada orang lain. Hampir semua fotografer melakukan hal ini pada awal karriernya. Setelah membaca artikel ini diharapkan bisa dimengerti, kenapa ada fotografer yang rela tidak dibayar demi sebuah JOB. Lalu apakah beda ?  Photographer dengan pengalaman dengan yang belum berpengalaman. JELAS beda !  Fotografer berpengalaman lebih pandai dalam membaca situasi, dealing dengan keinginan client, membawa suasana agar client berekspresi baik saat difoto, membuat konsep dan tema, bekerja dibawah tekanan, dll. Ini juga masuk dalam komponen biaya yang anda bayar dalam sebuah jasa fotografi.

Faktor prestise adalah faktor terakhir yang juga dijual oleh photographer yang sudah sangat terkenal. Ini juga masuk dalam komponen biaya, seorang fotografer yang luar biasa terkenal akan membandrol jasanya dengan harga yang sangat luar biasa mahal, karena memang menggunakan jasanya memberikan kebanggan tersendiri bagi client tersebut. Meskipun tidak jarang, hasil fotonya tidak jauh berbeda dengan fotografer profesional lainnya, tetapi kemasyuran nama sang fotografer juga berpengaruh dalam harga jual jasa fotografer tersebut. Sah-sah saja karena memang ada client kelas tertentu yang mempersyaratkan hal ini dalam sebuah pernikahan super mewah.

Tapi kenapa fotografer2 mahal dan berkelas biasanya memang portfolionya bagus bagus ?  Logikanya begini, yang mampu membayar fotografer mahal biasanya client yang memiliki budget lebih. Karena kekuatan budgetnya ini pun biasanya pemilihan lokasi fotonya pun eksklusif, property, kostume, make upnya menggunakan produk berkelas. Secara otomatis hasil fotonya pun akan bagus ! Bayangkan sebuah pemotretan di Paris atau kota-kota di eropa, dengan jas dan gaun karya desainer ternama, rasanya siapapun fotografernya pun akan bisa menghasilkan foto yang bagus. Apalagi bila dilakukan oleh fotografer yang tepat, sudah barang pasti menjadi perfect combination.  Itu sebabnya, membuat foto yang bagus dan unik perlu biaya yang tidak sedikit.

Juga banyak client yang sering mengkawatirkan bahwa dirinya tidak cantik dan pandai bergaya untuk difoto, bagaimana dengan hal ini ? Banyak client minder melihat portfolio fotografer lain yang mana modelnya terlihat cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Justru kalau semua portfolionya cantik-cantik dan ganteng-ganteng maka sudah bisa ditebak bahwa portfolio tersebut diperankan oleh model professional. Model professional sudah sangat fasih tampil depan kamera dan bisa dipastikan pasti fotonya bagus !  Bagi kami, adalah tantangan tersendiri untuk memotret seorang yang biasa saja, tapi bisa terlihat lebih baik dan bergaya bag model professional dalam fotonya. Siapapun diri anda, bagaimanapun rupanya, tetaplah berbangga atas diri anda sendiri, karena Sang Pencipta menciptakan semuanya sesuai takdir dan porsi masing-masing.

Selain investasi pokok tersebut diatas, masih adalagi investasi variabel yang mempengaruhi harga jual jasa fotografi. Contohnya adalah biaya pemasaran, operasional kantor, dll. Semakin mewah galery sebuah kantor jasa fotografi, semakin mahal juga nilai jual sebuah jasa fotografi tersebut. Secara logika, tidak ada satupun pelaku usaha yang mau mengurangi profit demi menurunkan harga. Menekan harga jual sudah hampir pasti adalah menekan biaya produksi dan bukan menekan profit. Banyak sekali komponen yang bisa ditekan demi harga jual yang murah.

Hal yg paling sering dilakukan adalah menerapkan teknik mass production. Memproduksi 1 unit barang akan jauh lebih mahal ketimbang memproduksi 1000 unit barang sekaligus. Itu adalah teori produksi beda dengan fotografi yang sarat akan sumber kreativitas dan nilai seni. Bayangkan seorang photographer yang kerjanya setiap hari motret ditempat yang sama, berulang-ulang, dengan client yang banyak. Sudah bisa ditebak fotografer tersebut akan jenuh, dan hasilnya pun akan membosankan. Kami jelas tidak memilih jalan ini, karena kami menginginkan keunikan dalam setiap foto. Nah, sekarang terbayang sudah, kenapa ada fotografer menjual paket foto ke luar negeri dengan biaya sangat luar biasa murah.

Akhirkata, apapun trik-trik fotografer, berapapun harganya, semuanya ada segmentasi pasar masing-masing. Ada memang client yang hanya sekedar foto saja, ada yang tidak ingin ribet, ada yang ingin semurah-murahnya. Lalu segment pasar mana yang dibidik oleh Anril Photography ?  Kami membidik client yang menginginkan keunikan karya dengan biaya investasi yang optimal. Kenapa ?  Karena kami biaya operasional kami sangat kecil, kami tidak memiliki kantor mewah, kami hanya melakukan pemasaran via website, kami juga tidak menginginkan jumlah pelanggan yang banyak karena demi menjaga kesegaran ide dan kreatifitas. Oleh karena itu kami sebut optimal karena jumlah yang anda bayarkan akan balik kepada anda dalam bentuk karya fotografi yang sepadan dengan harganya. Tidak kemahalan dan tidak juga murahan !